Mengapa Pendanaan P2P Lending Cocok Untuk Generasi Milenial yang Ingin Mengembangkan Dana

AFPI

Bagikan:

Melesatnya pendanaan P2P lending atau fintech pendanaan bersama tak lepas dari meningkatnya jumlah pendana atau pemberi pinjaman, atau lender. Dari data OJK, pertumbuhan jumlah rekening lender di Desember 2020 sebesar 716.963 entitas (naik 18,32% yoy). Lebih lanjut lagi sebanyak 66,38% pendana P2P Lending berusia 19-34 tahun, 29,13% berusia 35-54 tahun. Adapun lender P2P lending berusia kurang dari 19 tahun memberikan kontribusi sebesar 1,53% dan di atas 54 tahun sebesar 2,96%.

Ternyata rekening lender bisa dikatakan didominasi oleh generasi milenial. Sebuah perkembangan yang menggembirakan di industri fintech. Berarti edukasi dari AFPI, OJK maupun perusahaan fintech di media sosial tentang pengembangan dana telah mulai menunjukkan hasil.

Tren positif pengembangan dana ini tentunya tak luput dari kemudahan yang ditawarkan oleh platform financial technology, dan hadirnya perusahaan startup fintech legal. Dengan bermodalkan ponsel, internet, dana yang minim, masyarakat sudah bisa menjadi pendana P2P lending.

Generasi milenial dan pengembangan dana

Kaum milenial kerap dicap sebagai generasi yang suka menghamburkan uang demi gaya hidup. Ngopi di kafe kekinian demi foto yang Instagramable, mencoba segala macam menu makanan terbaru demi konten medial sosial sudah melekat di generasi milenial.

Namun, pandangan itu tak selamanya benar.

Sebuah laporan dirilis oleh Bank of America dengan judul, “Better Money Habits Millenial 2018”, menyebutkan sesuatu berbeda dari pandangan yang terbentuk selama ini. Dari laporan tersebut, menunjukkan minat generasi milenial mempunyai tabungan ada di angka 63%.

Artinya, generasi milenial ternyata memiliki minat dalam hal menabung. Dan lebih lanjut lagi dari data OJK di atas menunjukkan bahwa anak muda sekarang ini memiliki pandangan dan sadar bahwa mengembangkan aset untuk masa depan itu penting.

Fintech P2P lending pilihan tepat untuk generasi milenial yang ingin mengembangkan dana

Sebagian besar generasi milenial di Indonesia mulai bekerja di usia muda dengan gaji standar. Dalam perjalanannya, mereka mesti bisa untuk menabung, membantu keuangan orang tua dan saudara yang masih bersekolah. Begitulah, kisah para milenial yang menjadi sandwich generation.

Inilah mengapa kaum milenial, sebagai investor muda, cenderung enggan mengambil risiko dan sangat berhati-hati agar tidak kehilangan uang dalam pengembangan dana.

Salah satu fintech yang disukai oleh kaum milenial adalah P2P lending. Ada banyak alasan mengapa anak muda sekarang ini tertarik untuk mendanai P2P lending.

Lima alasan fintech P2P lending cocok untuk anak muda yang ingin mengembangkan dana

Memulai dengan dana kecil dan mudah dikelola

Salah satu alasan mengapa P2P lending menjadi pilihan utama karena bisa dilakukan secara online dan mudah! Mulai dari registrasi sebagai lender, memilih borrower dan berapa besar pinjaman yang akan diberikan, mengecek pembayaran tiap bulan, seluruh proses pendanaan P2P lending ini bisa dilakukan secara online baik lewat smartphone maupun laptop.

Modal awalnya pun bisa mulai dari seratus ribu. Itulah mengapa, milenial yang ingin mengembangkan aset, P2P lending adalah pilihan terbaik.

High return

Selain kemudahan, yang menjadi magnet dari P2P lending bagi generasi milenial adalah tingkat pengembalian yang relatif tinggi, bahkan dibandingkan dengan deposito. Keuntungan yang bisa didapatkan berbentuk bunga hingga di atas 16% per tahun.

Aman dan terlindungi

P2P lending relatif lebih minim risiko dibandingkan forex atau stock trading. Lebih jelasnya, P2P lending ini di bawah pengawasan OJK dan sudah ada aturan tegas yang mengatur tentang hal ini dari Bank Indonesia juga OJK sendiri.

Bisa menentukan tenor

Menjadi lender P2P lending dapat menentukan sendiri batasan waktu mereka untuk mengembangkan dana. Pendana P2P lending bisa memilih jangka waktu mulai dari enam bulan, dua belas hingga dua puluh empat bulan. Dengan jangka waktu yang ditentukan sendiri, pendana P2P lending bisa menyusun rencana pengembangan dana mereka ke depannya demi keuntungan yang lebih.

Bisa memilih lebih dari satu peminjam dana

Di sistem pendanaan P2P lending, lender memiliki keleluasaan untuk memberikan dana lebih dari satu peminjam. Ini disebut metode diversifikasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko yang bisa terjadi.

Risiko dalam pengembangan dana ini berupa kredit macet yang terjadi ketika ada peminjam dana yang tidak bisa membayar cicilan. 

Membantu pengembangan UMKM

Bisa dibilang, sebagian besar peminjam dana P2P lending adalah pelaku UMKM. Dengan menjadi pendana P2P lending, Anda sudah turut membantu para UMKM dalam mendapatkan modal usaha untuk mengembangkan usaha mereka.

Selain membantu para pelaku UMKM mendapatkan modal, Anda pun mendapatkan imbal hasil yang sesuai, dan terlebih Anda sudah sangat membantu mengembangkan produk lokal Indonesia.

Beberapa tahun terakhir ini, P2P lending tumbuh pesat dan semakin banyak pula generasi milenial menjadi pendana, paham akan literasi keuangan. Uang yang ditanamkan pun tidak sia-sia.

Kesimpulan

Siapa pun yang ingin mengembangkan dana pada dasarnya mengharapkan hal yang sama, keuntungan besar. Apalagi pengembangan dana ini cocok untuk jangka panjang, terlebih tidak membutuhkan terlalu banyak modal.

Itulah mengapa pengembangan dana dengan P2P lending sangat cocok untuk generasi milenial. Kini, para anak muda tidak perlu khawatir lagi jika mereka ingin mengembangkan dana yang dimiliki hingga menjadi aset yang menguntungkan, dan bisa mengelola dana untuk kebutuhan masa depan.