Kenali Perbedaan Utang Produktif dan Utang Konsumtif

AFPI

Bagikan:

Sebagian orang menganggap bahwa memiliki utang itu adalah hal yang buruk, sarang dosa. Tapi, sebenarnya tidak selamanya utang itu berkonotasi negatif. Karena tiap individu yang memutuskan untuk berutang pasti memiliki alasan kuat di baliknya. Apalagi kita juga mengenal ada utang produktif dan utang konsumtif.

Seorang pengusaha hebat saja dalam membangun usahanya tak lepas dari namanya utang. Biasanya utang yang mendatangkan keuntungan disebut utang produktif. Sedangkan, utang yang dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan disebut utang konsumtif.

Kedua jenis utang ini pasti akan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Di masa pandemi COVID-19, kondisi serba sulit. Ekonomi negara terpuruk, berbagai sektor terpaksa memberhentikan operasional, membuat sebagian masyarakat mengalami kesulitan keuangan. Ini bisa dilihat dari data OJK, khususnya peminjam dana yang memelesat pesat selama kurun waktu satu tahun.

Tapi, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk berutang?

Kapan Anda perlu berutang?

Berada di kondisi terdesak dan tidak memiliki dana darurat

Inilah yang terjadi pada sebagian masyarakat saat pandemi COVID-19 menghantam negara kita. Kondisi finansial keluarga goyah, pekerjaan tidak ada. Salah satu cara untuk menyelamatkan keadaan adalah berutang.

Ya, utang yang diajukan ke lembaga keuangan atau fintech pendanaan legal digunakan untuk bertahan hidup, bahkan ada juga yang menggunakan untuk berobat.

Mengembangkan usaha

Dalam membangun usaha, ada kalanya Anda akan memerlukan tambahan modal untuk melakukan inovasi produk, mengembangkan potensi hingga mengambil kesempatan bisnis. Perlu diketahui, semakin besar potensi usaha yang dimiliki, maka semakin besar pula modal yang harus Anda persiapkan.

Mendapatkan modal besar agak sulit, oleh karena itu pinjaman modal merupakan salah satu solusi terbaik yang bisa dilakukan. Tanpa adanya utang modal, Anda tidak bisa mengembangkan bisnis dengan cepat, bisa saja kesempatan yang ditawarkan akan hilang jika Anda tidak memiliki modal yang mencukupi.

Mempertahankan kondisi arus kas setelah melakukan pembelian yang besar

Saat Anda membeli barang yang mahal, salah satu hal yang mesti dipertahankan adalah menjaga arus kas. Apalagi jika Anda membeli barang yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan produktif.  Membeli barang tersebut membuat utang menjadi pilihan yang masuk di akal agar keuangan tidak berantakan.

Contohnya, Anda harus membeli laptop untuk menunjang pekerjaan sebagai freelancer. Daripada menggunakan dana darurat, Anda memilih untuk berutang dalam membeli laptop tersebut. Alasannya jelas, Anda lebih menjaga kestabilan keuangan (dengan mempertahankan dana darurat) dan memilih berutang untuk mendapatkan laptop. Anda menyebutnya sebagai “investasi”, karena dengan adanya laptop yang mumpuni, kinerja Anda pun semakin baik sehingga dapat mendatangkan penghasilan yang lebih baik.

Bisa dilihat bahwa tak selamanya utang itu buruk adanya. Asalkan dilakukan dengan alasan yang kuat, utang menjadi hal yang wajar untuk dilakukan dan merupakan bagian dari pengelolaan keuangan.

Berikut ini dua jenis utang yang mesti Anda ketahui.

Mengenal Utang Produktif dan Utang Konsumtif

Utang Produktif

Utang produktif merupakan utang yang akan menciptakan imbal hasil di masa depan. Walaupun cicilan utang Anda sudah lunas, namun aset yang dibeli dari utang tersebut akan meningkat nilainya atau bisa menambah pendapatan Anda.

Ciri-ciri utang produktif :

  • Bisa mendatangkan penghasilan
  • Meningkatkan aset
  • Membutuhkan jaminan

Contoh dari utang produktif :

  • Kredit investasi
  • Kredit modal kerja (KMK)

Beberapa utang konsumtif bisa juga menjadi produktif seperti cicilan kendaraan bermotor yang digunakan untuk ojek online, KPR rumah atau ruko yang kemudian dapat disewakan, ataupun cicilan laptop yang digunakan untuk bekerja.

Utang Konsumtif

Kebalikan dari utang produktif, utang konsumtif merupakan pinjaman dana yang dilakukan untuk membeli barang yang nilainya terus menurun di masa depan dan tidak akan memberikan penghasilan. Intinya utang konsumtif ini dilakukan tidak dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok, dan bahkan akhirnya menggerus aset Anda.

Contoh utang konsumtif :

  • Membeli pakaian, sepatu untuk gaya hidup agar tampak fashionable
  • Membeli mobil terbaru hanya karena gengsi dan harganya di luar batas kemampuan
  • Liburan mewah

Dari pengertian di atas, perbedaan dari utang konsumtif dan utang produktif adalah saat Anda memiliki utang produktif, pada umumnya Anda memiliki penghasilan tambahan untuk melunasi cicilan utang tersisa.

Sayangnya, hal ini berbanding terbalik dengan utang konsumtif, ketika kemudian justru Anda memiliki risiko tinggi terlilit utang dan mengalami kerugian di masa depan.

Agar terhindar dari jeratan utang, baiknya Anda melakukan tip mengelola utang di bawah ini.

Tip Mengelola Utang 

Perhatikan lagi alasan melakukan utang

Ini adalah pertimbangan pertama sebelum Anda memutuskan untuk berutang. Anda bisa mengambil jeda untuk menjawab pertanyaan, kenapa perlu berutang? Ini perlu dilakukan agar Anda tidak kesulitan di kemudian hari.

Pastikan rasio utang tidak lebih 30% dari penghasilan

Salah satu prinsip dasar manajemen keuangan adalah cicilan utang tidak boleh lebih dari 30% untuk menghindari terjadinya gali lubang tutup lubang.

Bunga pinjaman

Anda harus memperhatikan besaran bunga pinjaman. Ini harus jadi pertimbangan Anda sebelum mengambil pinjaman dana. Intinya, dalam mengajukan pinjaman dana, Anda mesti teliti dan memperhatikan segala kewajiban bayar, dan juga benefit yang didapatkan.

Hindari menunggak dan gagal bayar

Berutang harus disesuaikan dengan kondisi keuangan Anda. Dan sebaiknya Anda tidak pernah telat membayar cicilan, hingga berakibat gagal bayar. Sekali Anda telat, maka akan ada beban biaya yang harus dibayarkan.

Kesimpulan

Memiliki utang produktif dan utang konsumtif tidak selamanya merujuk ke hal negatif. Semuanya kembali ke Anda, mengapa harus berutang dan pastikan bisa mengelola utang tersebut agar tidak membuat Anda susah di kemudian hari.