Fintech juga Ramah untuk Ibu Rumah Tangga, Ini Alasannya!

AFPI

Bagikan:

Ibu rumah tangga itu seperti manajer tim olahraga. Harus bisa menentukan strategi apa yang akan dilakukan agar memenangi pertandingan, apakah bertahan, menyerang atau keduanya. Pun sebagai ibu rumah tangga, mesti pintar mengatur strategi keuangan agar kondisi finansial keluarga bisa terjaga, tidak defisit sebelum gajian lagi.

Ya, pekerjaan ibu rumah tangga tidaklah mudah. Mereka ini seperti wonder woman, luar biasa hebat dalam melakukan pekerjaan multitasking, dan di sisi lain pintar juga mengatur keuangan. Dalam sebulan seorang Ibu rumah tangga harus bisa membagi gaji yang diterima dari suami ke dalam pos-pos pengeluaran, mengatur strategi agar semua bisa mencukupi.

Jika ada anggapan bahwa ibu rumah tangga tidak melek akan pengembangan dana itu salah. Para ibu rumah tangga mengerti tentang pengembangan dana, hanya saja masih minim pengetahuan akan instrumennya. Terlebih lagi, ada yang berpikir bahwa butuh modal besar untuk bisa mengembangkan dana seperti di saham, reksa dana atau fintech pendanaan bersama. Akibatnya, uang yang seharusnya sudah dapat dialokasikan untuk pengembangan dana hanya ngendon saja, disimpan ke tabungan konvensional atau membeli emas. Padahal, ada beberapa instrumen pengembangan dana yang sangat ramah ibu rumah tangga.

4 Instrumen pengembangan dana yang cocok untuk ibu rumah tangga

Emas

Pengembangan dana yang paling digemari oleh semua kalangan adalah emas. Karena sifatnya yang relatif cukup mudah dicairkan atau likuid, jadi ketika Anda memiliki kebutuhan mendesak bisa dijual atau digadaikan. Emas termasuk dalam pengembangan dana jangka panjang, itulah mengapa emas populer di kalangan yang mau mengembangkan dana. 

Reksa dana pasar uang

Reksa dana sekarang ini lagi naik daun. Yang belum tahu tentang reksa dana, instrumen ini bisa diartikan seabagai kumpulan dana dari beberapa pengembang dana dan akan dikelola oleh seorang manajer investasi.

Ada empat jenis reksa dana yaitu saham, pendapatan tetap, pasar uang, dan campuran. Untuk ibu rumah tangga, sebenarnya tergantung pada tujuannya, tetapi biasanya reksa dana pasar uang lebih diminati, lantaran cenderung lebih stabil dan minim risiko.

Surat utang negara (SUN)

Surat utang negara (SUN) merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah dengan tujuan mencari pembiayaan untuk APBN. Di sini Anda seolah menjadi pemberi pinjaman pada pemerintah dan nantinya akan mendapatkan imbal hasil dalam bentuk kupon atau bunga.

Surat utang negara cocok untuk ibu rumah tangga karena pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh negara, sehingga tingkat risikonya juga relatif sangat rendah. Beberapa produk surat utang negara yang bisa Anda coba yakni, Sukri (Sukuk Ritel), SBR (Saving Bond Ritel), ORI (Obligasi Ritel).

Fintech pendanaan bersama atau P2P Lending

Nah, dibandingkan tiga instrumen di atas, instrumen keempat ini mungkin adalah instrumen yang paling muda. Tetapi, pasti sudah cukup sering ya kan, mendengar fintech pendanaan bersama setahun belakangan ini? Ya, platform berbasis digital ini sangat diminati berbagai kalangan khususnya milenial karena kemudahan untuk mengembangkan dananya.

Bagi ibu rumah tangga yang tertarik untuk mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama, ada baiknya untuk kenalan dulu. Platform ini selain cocok untuk anak muda, juga cocok lo sebagai instrumen untuk mengembangkan dana untuk ibu rumah tangga.

5 Alasan Fintech Pendanaan Bersama Ramah untuk Ibu Rumah Tangga

Via online sudah bisa mengembangkan dana

Ya, inilah keunggulan utama dari fintech pendanaan bersama. Semua proses akan dilakukan secara online. Jadi, ibu rumah tangga tak perlu khawatir, harus meninggalkan anak-anak dan pergii ke kantor untuk melengkapi berkas. Cukup mengunduh aplikasi, sediakan data yang diminta, lalu tinggal tunggu verifikasinya.

Dengan duduk santai di rumah sambil menemani anak bermain, Anda sudah bisa mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama. 

Tip memilih perusahaan fintech pendanaan bersama:

  • Pilih yang sudah terdaftar dan berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bisa cek di website OJK atau AFPI
  • Cari tahu informasi perusahaan tersebut di website dan media sosial, lihat rekam jejaknya.

Modal sedikit

Untuk bisa mulai mengembangkan dana di fintech ini, tak harus menyediakan modal terlalu banyak kok. Anda bahkan bisa mulai dari Rp100.000. Tentunya, ini hanya seper sekian dari uang belanja satu bulannya, ya kan? 

Hanya saja, pastikan Anda hanya memakai “uang dingin”, yaitu uang yang memang dialokasikan untuk dikembangkan di fintech ini. Jangan sampai mengganggu kebutuhan utama di rumah ya. Anda bisa menyisihkan uang belanja bulanan maupun pendapatan dari bisnis online sampingan untuk dikembangkan lagi di sini. Untuk besaran alokasi, bisa menyesuaikan bujet per bulannya.

Return yang tinggi

Di fintech pendanaan bersama, Anda akan mendapatkan return yang tinggi, sekitar 14-20% per tahun. Tentunya ini lebih besar dibandingkan Anda mengembangkan dana di tabungan dan deposito.

Bisa menentukan borrower (peminjam dana)

Di platform ini, Anda tidak perlu bingung menganalisis kelayakan borrower dan juga menentukan tingkat risiko peminjam dana. Karena dua hal tersebut sudah dilakukan oleh perusahaan fintech tersebut. Menariknya, Anda bisa memilih sendiri peminjam dana yang akan diberikan pinjaman.

Turut membantu perkembangan UMKM

Peran UMKM dalam perkenomian negara sangat vital. Dari data Badan Pusat Statistika (BPS) di tahun 2020 tercatat ada 64 juta UMKM di Indonesia. Untuk itu pemerintah sekarang ini gencar menyalurkan dana bagi UMKM agar usahanya bisa terus berjalan. Sayangnya, kebutuhan kredit UMKM mencapai Rp1.600 triliun per tahun, dan lembaga keuangan konvensional hanya bisa menyalurkan 600 triliun per tahun.

Adanya fintech pendanaan bersama, menjadi alternatif bagi UMKM untuk mendapatkan dana sehingga bisa mengembangkan bisnisnya. Dan, jika Anda menjadi lender atau pendana di platform ini, secara langsung Anda membantu pergerakan bisnis UMKM.
Kesimpulan
Bagi ibu rumah tangga, tidak ada kata terlambat untuk memulai mengembangkan dana. Pastikan hanya menggunakan “uang dingin”, jangan menggunakan uang belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Aturlah alokasi dana ini sesuai kemampuan, dan tentunya setelah berdiskusi dengan pasangan. Dengan demikian, nantinya Anda pun memiliki dana tambahan untuk support keuangan keluarga.