Utang Teman? Sebelum Deal, Pahami Dulu Risikonya!

AFPI

Share:

Sering kali kondisi keuangan berada di titik yang tidak baik. Berbagai kebutuhan mendesak muncul bersamaan dan uang yang dimiliki tidak mencukupi. Untuk mengatasinya ada yang menempuh dengan jalan berutang. Sebagian orang, memilih utang teman atau keluarga, karena mereka berpikir bahwa meminjam uang ke orang terdekat merupakan hal yang paling mudah. Jumlah yang dipinjam pun bervariasi tergantung dengan kebutuhan.

Harapannya, ya nantinya akan dapat menjadi pinjaman lunak. Syukur-syukur, cara pengembaliannya nanti juga bisa lebih gampanglah. Disepik-sepik sedikit, kan teman ini.
Ada lima alasan orang yang akhirnya memilih utang teman, yaitu:

  • Membutuhkan dana secepatnya tapi tidak memiliki cukup tabungan
  • Memiliki riwayat kredit yang buruk sehingga sulit mengajukan pinjaman
  • Kehilangan pekerjaan atau dalam kondisi sakit
  • Membutuhkan modal usaha
  • Utang ke teman tidak membutuhkan agunan
  • Tapi, benarkah utang teman itu lebih “lunak”? Kira-kira ada risiko apa jika kita memiliki utang pada teman atau keluarga? 

Sebelum Anda memutuskan untuk meminjam uang ke teman atau keluarga, pahami etika sebagai peminjam berikut ini.

Etika Berutang ke Teman

Tahu kondisi 

Ini merupakan hal dasar yang harus Anda pahami, tahu kondisi teman. Jangan Anda berutang saat teman lagi tertimpa musibah atau tidak memiliki uang yang cukup. Sebaiknya tanyakan terlebih dulu kondisinya sebelum meminjam.

Kapan melunasi?

Walaupun teman sendiri, bukan berarti tidak ada tenggang waktu untuk melunasi. Buatlah perjanjian dan komitmen kapan Anda akan melunasi utang teman. Agar kedua belah pihak pun tidak ada ganjalan.

Tidak boleh marah saat ditagih

Risiko berutang adalah siap untuk ditagih kapan pun. Teman juga memiliki kebutuhan yang sama dengan Anda, jadi mereka tak salah ketika menagih uang yang dipinjam. Kalaupun Anda belum memiliki uang cukup untuk melunasi, bicaralah baik-baik dengan teman.

Pinjamlah saat Anda benar-benar membutuhkan

Di artikel sebelumnya sudah dijelaskan tentang utang konsumtif dan utang produktif. Ada berbagai alasan ketika seseorang melakukan pinjaman uang. Bagi Anda yang ingin utang teman, sebaiknya tinjau lagi apakah kebutuhan Anda mendesak atau sekadar untuk kebutuhan konsumtif saja?

Membuat perjanjian

Tak ada salahnya jika Anda membuat perjanjian dengan teman saat berutang. Terlebih jika Anda meminjam dalam jumlah yang cukup besar. Perjanjian yang dibuat merupakan bukti berkekuatan hukum yang bisa dipakai apabila terjadi masalah di kemudian hari.

Kendati utang teman terlihat lebih mudah, namun risiko yang harus Anda tanggung tidaklah kecil lo! Bahkan, di beberapa kasus masalah utang teman ini harus diselesaikan dengan cara yang menyakitkan. Seperti mengumbar skrinsut chat di media sosial hingga viral, ataupun dengan cara kekerasan. Akibatnya relasi pun rusak. Kita akhirnya jadi kehilangan sahabat terbaik, ataupun putus hubungan keluarga. Sebabnya lebih bikin malu lagi: masalah uang. Sungguh, bukan hal yang mengenakkan, bukan?

Agar terhindari dari hal-hal tersebut, sebaiknya Anda mengetahui risiko utang teman atau keluarga sebelum akhirnya benar-benar deal.

Risiko Utang Teman atau Keluarga yang Harus Anda Pahami 

‘Jaminan’ hubungan pertemanan

Memang sih saat meminjam uang teman, Anda tidak dibebankan untuk memberikan sejumlah agunan atau jaminan. Cairnya uang pinjaman pun cepat. Namun, ketika Anda telat membayar dan susah dihubungi, maka hubungan pertemanan Anda akan menjadi ‘jaminan’. Seperti yang sudah sempat disinggung di atas tadi.

Akan tumbuh rasa marah dari pihak teman yang memberikan pinjaman karena mereka merasa dikhianati.

Tak jarang kita menemui hubungan pertemanan yang renggang bahkan tak saling bertegur sapa hanya karena masalah utang teman ini. Persahabatan yang terjalin sekian lama akhirnya kandas karena perkara uang. Ya, inilah risiko terberat dari utang ke teman.

Intinya, orang terdekat sekalipun bisa menjadi musuh hanya karena utang.

Melibatkan pihak ketiga

Saat ditagih Anda sulit dihubungi, selalu menghindar, bahkan mengganti nomor telepon, padahal sudah meminjam uang dalam jumlah besar, biasanya akan ada pihak ketiga yang dilibatkan dalam menagih utang ini.

Yah, sebenarnya sih melibatkan pihak ketiga sudah jamak terjadi di dunia penagihan utang. Sayangnya, hal ini juga kadang di luar kendali. Ada yang menagih dengan cara yang sopan, ada pula yang tidak mengenakkan.

Risiko ini harus Anda pahami, karena kesabaran orang juga ada batasnya. Ketika Anda sebagai peminjam lalai dalam melunasi, maka Anda pun tak akan dapat mengontrol apa yang akan terjadi. Teman Anda berhak untuk meminta bantuan pihak ketiga dalam menagih utang.

Keterlibatan pihak ketiga ini, tentunya bisa jadi akan membuat Anda dan keluarga tidak nyaman. Jadi, sebaiknya, hal ini juga menjadi pertimbangan Anda sebelum akhirnya utang teman atau keluarga. 

Berutang lagi untuk melunasi

Saat keadaan semakin terdesak untuk harus segera melunasi utang teman, sebagian orang memilih untuk berutang lagi dalam menyelesaikan masalah. Sayangnya, lingkaran gali-lubang-tutup-lubang ini justru membuat Anda makin terimpit dengan tumpukan utang.

Berutang sah-sah saja dilakukan. Tapi, ketika memutuskan untuk berutang, Anda harus bisa mengelola utang tersebut agar nantinya tidak merepotkan kehidupan Anda. 

Tip Mengelola Utang 

Berutang Hanya Jika Merasa Mampu Membayar Kembali

Yang namanya utang, sudah pasti karena kita tak punya uang. Namun, akan berbeda jika kita berutang, tetapi yakin nantinya akan dapat mengembalikannya karena ada sumber pemasukan yang stabil atau bisa diandalkan.

Dari sinilah seharusnya pertimbangan kita bertolak. 

Utang sebaiknya dilakukan setelah Anda punya skema yang matang mengenai pengembaliannya. Jangan terjebak, utang dilakukan tanpa perencanaan yang baik hanya akan membuat masalah di depan. Baik itu utang produktif maupun utang konsumtif.

Disiplin

Walaupun “hanya” utang teman, bukan berarti bisa sesuka hati saat harus mengembalikannya. 

Ingat, hubungan pertemanan atau kekeluargaan yang akan menjadi taruhannya.

So, “paksa” diri sendiri untuk bisa disiplin melunasi sesuai waktu yang sudah disepakati. Ini akan membuat hubungan dengan teman ataupun keluarga tetap terjaga dengan baik. Jika kita punya iktikad baik, maka kalau sampai ada beberapa hal yang menjadi hambatan, kita pun bisa lebih mudah mendiskusikan dan mencari solusinya bersama.

Berhemat

Agar tetap bisa disiplin dalam mengembalikan pinjaman, akan ada kalanya Anda harus menentukan prioritas.

Kewajiban harus selalu didahulukan. Berhematlah kalau perlu, agar Anda bisa memastikan cicilan pinjaman bisa lancar disetorkan.

Harus bisa sadar diri dengan kemampuan keuangan, jangan melakukan hal yang menjadikannya bumerang bagi keluarga Anda di kemudian hari.

Jangan lupa juga untuk membuat catatan keuangan tiap bulan, agar Anda bisa mengontrol pengeluaran dan pemasukan.

Kesimpulan

Memang benar utang teman itu sangat mudah, tapi risikonya terlalu besar untuk ditanggung. Pastinya, siapa pun tidak ingin perkara utang membuat hubungan dengan teman putus.

Bisa jadi, kalau urusan utang atau meminjam dana, akan jadi opsi lebih baik kalau kita memanfaatkan layanan lembaga keuangan seperti fintech pendanaan saja. Mengapa? Karena lebih terjamin, jelas, dan terukur. Meminjam dana ke fintech pendanaan, tidak akan ada drama hubungan pertemanan yang harus kandas karena masalah telat bayar. Memang peminjam dana akan terikat oleh beberapa ketentuan. Hal ini wajar, karena ketentuan dibuat demi nyamannya semua pihak.

Di fintech pendanaan, Anda akan diarahkan untuk meminjam sesuai kebutuhan dan kemampuan untuk membayar. Prosesnya pun mudah, semua dokumen diunduh melalui aplikasi dan pencairan dana pun tidak membutuhkan waktu yang lama. Yang perlu diingat adalah pilihlah fintech pendanaan yang sudah terdaftar dan berizin OJK

Nah, bagaimana? Masih pengin utang teman atau keluarga saja?