Risiko Fintech yang Harus Dipahami oleh Pemberi Pinjaman Dana

Financial technology atau fintech memang memudahkan bagi Anda yang ingin meminjam maupun mengembangkan dana. Tapi, bagi Anda yang ingin menjadi pemberi pinjaman dana harus memahami terlebih dahulu risiko fintech sebelum memulai.

Fintech pendanaan bersama yang berbasis digital tumbuh dengan pesat dan sukses meraih perhatian masyarakat. Sistem pinjaman berbasis online ini dipercaya akan terus tumbuh subur di tahun-tahun berikutnya.

Sudah dibahas di artikel-artikel sebelumnya, bahwa lender atau pemberi pinjaman dana aman untuk mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama atau P2P lending. Melalui platform ini Anda bisa menyisihkan pendapatan untuk pengembangan dana mulai dari seratus ribu rupiah. Sangat didak disarankan untuk sekadar ikut-ikutan dalam pengembangan dana. Anda harus tahu tujuan keuangan Anda terlebih dahulu, lalu mencari tahu profil risiko dan rentang waktu untuk mengembangkan dana. 

Untuk Anda yang tertarik untuk menjadi pemberi pinjaman di fintech pendanaan bersama baiknya mengetahui beberapa risiko fintech berikut ini.'

Risiko fintech yang harus diketahui

Risiko adalah hal yang umum terjadi termasuk dalam financial technology. Itulah mengapa Anda harus mengenali dan memahami risiko fintech untuk menghindari kerugian. Jika Anda sudah tahu risiko fintech, akan mudah bagi Anda untuk mengatur strategi dalam mengantisipasinya.

Pemberi pinjaman akan menanggung sepenuhnya apabila terjadi tunggakan

Siapkan diri Anda menghadapi risiko yang tidak menyenangkan ini, tunggakan hingga gagal bayar oleh peminjam dana. Di sini ketika terjadi tunggakan dan gagal bayar, Anda sebagai pemberi pinjaman harus siap kehilangan seluruh dana yang telah dipinjamkan dan tanpa ganti rugi sepeser pun dari pihak pengelola.

Diserang peretas

Seperti yang diketahui financial technology sistemnya berbasis digital. Tak bisa dihindari apabila satu saat nanti website atau aplikasi diretas oleh hacker yang ingin mengambil alih data pemberi pinjaman maupun peminjam dana. 

Ini tak hanya menjadi risiko Anda sendiri saja, tetapi juga merupakan tugas penting pengelola fintech pendanaan bersama untuk meningkatkan keamanan digital untuk menghindari website diretas.

Cybercrime

Cybercrime dalam hal ini penipuan data, tanda tangan digital yang dipalsukan, jual beli data oleh orang dalam pengelola fintech pendanaan bersama. Ini rentan terjadi sekarang ini, banyak data yang diperjual belikan hingga penipuan.

Risiko operasional

Selain risiko gagal bayar yang harus ditanggung oleh pemberi pinjaman, risiko operasional pun harus siap-siap dihadapi.

Risiko operasional dalam hal ini dari pihak pengelola, di mana jika suatu saat nanti pihak pengelola menyalahgunakan dana dan melarikan diri. Berikutnya apabila pengelola bangkrut. Pemberi dana harus siap dengan risiko fintech ini. Apalagi jika ternyata fintech pendanaan bersama yang bersangkutan ternyata ilegal.

Karenanya, disarankan sebelum menanam dana ke salah satu fintech pendanaan bersama atau P2P lending, baiknya mengecek legalitas, kredibilitas dan kinerja pengelola.

Tidak bisa menarik dana di tengah jalan

Risiko fintech yang satu ini tak kalah penting untuk dipikirkan, di mana pemberi pinjaman tidak bisa menarik dana di tengah jalan. Artinya, pemberi dana harus menunggu hingga pinjaman dana tersebut lunas baru bisa diambil. 

Jadi, pastikan dana yang akan ditanamkan di fintech pendanaan bersama atau P2P lending dari dana khusus untuk pengembangan dana, bukan diambil dari tabungan utama ataupun yang dialokasikan untuk kebutuhan pokok.

Agar Anda aman mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama atau P2P lending, setidaknya lakukan tiga hal ini.

Tips aman mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama

Risiko fintech di atas memang tidak bisa dihindari, setidaknya Anda melakukan tindakan pengamanan terlebih dahulu agar semuanya berjalan lancar.

Jangan menggunakan uang tabungan 

Risiko fintech poin enam di mana dana tidak bisa ditarik tengah jalan setidaknya membuat Anda berpikir untuk mengalokasikan dana khusus untuk pengembangan dana. Alasan tidak menggunakan uang tabungan karena dana yang ditanam tidak bisa diambil sewaktu-waktu, harus menunggu peminjam dana menyelesaikan kredit baru bisa diambil.

Cek legalitas, kredibilitas

Ini wajib banget untuk dilakukan. Ada baiknya Anda mengecek legalitas suatu aplikasi financial tecnology di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau di website ini. Setidaknya ada Anda bisa lega karena pengelola yang Anda pilih sudah berizin. 

Anda juga bisa mengecek media sosial pengelola seperti Instagram, Facebook untuk melihat komen-komen dari para pengguna. Ini akan menjadi bahan pertimbangan Anda juga dalam memilih pengelola.

Diversifikasi pinjaman

Jangan hanya terpaku menanamkan dana di satu peminjam dana. Karena ini sangat berisiko apabila peminjam dana mengalami gagal bayar. Untuk itu, sebaiknya Anda menyebarkan dana ke beberapa peminjam, sehingga bisa meminimalisir potensi kerugian dan memaksimalkan keuntungan.

Kesimpulan

Perkembangan industri financial technology di Indonesia sangat cerah. Sistemnya pun terus diperbarui untuk kenyamanan pengguna. Ini bisa dilihat dari data pemberi pinjaman yang melesat pesat setahun belakangan ini. Bagi Anda yang ingin mengembangkan dana di fintech pendanaan bersama, sudah seharusnya memahami risiko fintech di atas dan lakukan tiga tip untuk mengantisipasi kerugian di masa depan.